Menjaga Kehidupan yang Seimbang di Saat Mengajar dari Rumah

Pembelajaran jarak jauh tidak hanya menambah masalah baru bagi orang tua dan murid, tetapi juga bagi guru. Salah satu masalah yang kerap terjadi adalah terjadinya kehidupan yang tidak seimbang saat mengajar dari rumah.

Kehidupan yang tidak seimbang ini secara sederhana berarti waktu yang digunakan untuk baik untuk bekerja dan beristirahat tidak seimbang; ada salah satu aspek yang mengambil porsi waktu lebih banyak daripada yang lain. Dalam artikel ini, hal yang dimakudkan adalah waktu bekerja yang melebihi jam kerja yang telah ditetapkan.

Kendala yang Dialami Guru Selama Pembelajaran Daring

Bukanlah suatu hal yang asing jika kita mendengar guru lembur menyiapkan bahan ajar dan administrasi sekolah hingga malam hari. Ditambah lagi jika guru harus terlibat dalam acara kepanitiaan tertenu di dalam sekolah. Hal ini tentu dipersulit dengan harus melakukannya secara virtual, dimana terdapat banyak kendala, seperti perangkat, jaringan, maupun situasi yang tidak kondusif di rumah.

Selain mengurus semua ini, para guru juga harus beradaptasi dengan konteks pembelajaran daring; mereka diwajibkan untuk menyesuaikan rancangan pembelajaran yang telah dibuat untuk dapat diterapkan di masa pembelajaran online ini. Tentunya hal ini juga termasuk untuk mencoba berbagai macam aplikasi pembelajaran serta permainan digital edukatif yang juga memakan waktu untuk mencoba dan beradaptasi dengannya.

Jika guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat, apakah yang akan terjadi? Ia akan jatuh sakit. Apa akibatnya? Pengajaran menjadi tidak maksimal. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang guru untuk memperhatikan kehidupannya dalam masa pandemi ini. Jika tidak demikian, produktivitas guru bisa terhambat.

Guru Produktif Dalam Masa Pembelajaran Daring

Lalu, mungkin kita bertanya adalah, apakah guru yang lembur adalah guru yang produktif? Jika iya, maka upaya ‘keras’ semacam itu patut untuk diperjuangkan. Tetapi, jika tidak, apa faedahnya? Mengapa harus sampai lembur jika itu belum tentu menjadi hal yang produktif, atau bermanfaat bagi orang lain, termasuk para murid? Apakah bekerja dari rumah bisa meningkatkan produktivitas guru?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penting bagi kita untuk mengerti apa yang dimaksud dengan guru produktif dan apa saja karakteristiknya.

Kata ‘produktif’ dalam KBBI berarti “mendatangkan (memberi hasil, manfaat, dan sebagainya); menguntungkan.”

Dalam konteks seorang guru, dapat dikatakan bahwa guru produktif adalah guru yang mendatangkan keuntungan, bagi para murid, orang tua, dan kolega. Berdasarkan definisi ini saja, kita dapat menjawab bahwa guru yang sakit, tidak bisa dikatakan sebagai guru produktif.

Kehidupan Seimbang Menghasilkan Produktivitas

Oleh karena itu, di prioritas pertama agar seorang guru bisa mendatangkan keuntungan bagi orang lain adalah dengan menjadi sehat. Kehidupan yang sehat tentunya dapat diraih melalui kehidupan yang seimbang, baik dalam waktu beristirahat maupun bekerja.

Tentunya hal ini akan sangat menantang dalam masa pembelajaran online, dimana guru mengajar dari rumah, dan pengawasan menjadi berkurang. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja bisa digunakan untuk beristirahat, dan waktu untuk beristirahat digunakan untuk bekerja. Tidak heran guru bisa lembur hingga malam hari.

Cara-cara Praktis untuk Menjaga Kehidupan yang Seimbang

Selanjutnya, bagi guru-guru yang sudah berpengalaman, mereka kemungkinan sudah bisa beradaptasi dengan kehidupan seorang pengajar. Tetapi, sebagian besar orang yang baru menjadi guru, kemungkinan akan mengalami ‘burnout’ dan lembur, baik di hari kerja, maupun akhir pekan.

Oleh karena itu, tiga cara ini dapat membantu guru untuk dapat menjaga kehidupan yang seimbang selagi mengajar dari rumah:

1. Tidak bermain media sosial selama jam kerja.

Pernahkah Anda merasa baru sebentar membuka media sosial tetapi ternyata sudah menghabiskan waktu berjam-jam? Terjebak dalam media sosial adalah penguras waktu yang tercepat dan terefektif.

Satu jam di media sosial terasa jauh lebih sebentar daripada satu jam menyelesaikan administrasi sekolah, termasuk bahan ajar. Sebaliknya, 30 menit di depan komputer untuk mengoreksi hasil pekerjaan murid bisa terasa lebih lama daripada 3 jm di media sosial. Oleh karena itu, berkomitmen untuk tidak bermain media sosial selama jam kerja adalah hal yang bijak untuk dilakukan.

2. Menggunakan daily planner.

Terkadang kita bisa merasa bingung harus mengerjakan apa saja karena terlalu banyak hal yang harus dikerjakan. Alih-alih bingung sendiri, seorang guru dapat mendaftarkan hal apa saja (to do list) yang harus diselesaikan atau dikerjakannya di hari tersebut di daily plannernya. Hal ini terbukti efektif meningkatkan produktivitas bagi banyak orang sebab manusia cenderung pelupa dan dengan menuliskannya, kita bisa lebih ingat.

3. Minimalisir waktu lembur.

Terkadang waktu yang banyak dapat menyebabkan dorongan untuk menunda melakukan sesuatu. “Masih ada hari esok,” “masih ada 3 jam lagi,” “masih ada 30 menit lagi;” pola pikir seperti inilah yang tidak menganggap waktu sebagai aset terpenting dalam hidup. Kita memiliki waktu 8-9 jam di sekolah. Maksimalkan untuk mengerjakan setiap tanggung jawab yang ada. Jika pun kita sudah bertanggung jawab, tetapi memang harus lembur, hal ini kemudian dapat dikomunikasikan kepada pimpinan dengan memberikan pertimbangan jadwal harian (daily planner) yang telah dibuat.

Harapannya, dengan memahami bagaimana kehidupan yang seimbang dapat menghasilkan manfaat tidak hanya bagi sendiri, tetapi juga orang lain, seorang guru dapat dengan rendah hati menerapkan tiga hal di atas untuk dapat mengupayakan kehidupan yang lebih seimbang. Selamat mencoba!

Leave a Comment